Totoharjo Post – Bencana Tsunami sisakan kesedihan dan kepiluan yang menyayat hati, sore hari, Sabtu (22/12) mereka masih makan bersama keluarga, bersenda gurau dengan anak anak mereka, tertawa bersama saling tukar cerita hari yang mereka lewati.
Mereka tak sadar jika itu adalah kesempatan dan moment terakhir mereka berkumpul bersama keluarganya karena dalam hitungan jam ketika mereka hendak menuju peraduan, sekonyong konyong gemuruh suara ombak kejutkan dada pekakkan telinga tak ada waktu untuk bicara tak ada waktu untuk meminta, gelombang setinggi rumah rumah mereka dengan tanpa iba melumat semua yang ada didalamnya, tak ada lagi tawa dan canda, tak ada berbagi cerita semua berganti dengan pekikan suara dan jeritan terakhir menjelang hilangnya nyawa.

Rumah yang disana mereka lahir, rumah yang disana anak anak mereka dibesarkan, rumah yang disana seorang kakak bercengkrama dengan adiknya, kini yang tersisa Hanya puing diselimuti oleh kilauan Lumpur ketika disapu bias sinar bulan dikala malam, Keceriaan berubah dengan derai air mata, seorang anak mencari ibu bapaknya atau orang tua yang harus kuat menggendong mayat buah hati nya yang sore tadi masih riang bercanda. Itulah secuil kisah dari pesisir sana Tapi tahukah kita dengan kisah seorang bocah kecil yang bernama Aditya..?

Aditya, seorang bocah yang masih duduk disekolah dasar kelas enam tak tahu kemanakah kedua orang tua dan adik kesayangannya, dia tengah pergi berjuang meraih cita cita tatkala gelombang besar luluh lantakkan rumahnya tanpa sisa. Aditya, seorang bocah yang memimpikan bisa Menjadi atlet sepak bola hingga kini masih belum tau dimana ayahnya Berada, sedangkan ibu dan adiknya yang hanya tinggal nama orang orang disekitarnya tak sanggup untuk menyampaikan Berita.

Sibocah yang saat ini hidup sebatang kara di sudut ruang pengungsian, dia tiada sadar jika kepergiannya kemarin hari untuk meraih cita cita harus dia bayar dengan begitu mahalnya, ia harus kehilangan semua tanpa tersisa. Nanar matanya kosong memandang langit langit ruang pengungsian, ia masih berharap ia dapat berjumpa dengan Sang ibu dan adiknya, tiada sadar jika mereka sudah meninggalkan ia untuk selamanya.

Adik Kami, Aditya…. kisahmu begitu mengiris hati, Lisannya senantiasa menanyakan kabar sang adik tercinta yang ia tak tahu jika sang adik telah mendahuluinya berjumpa dengan Robb-nya, buah tangan untuk sang adik yang ia bawa ,masih tersimpan rapi dalam buntalan didalam Tas nya. ..”Ini Untuk adik” Ujarnya,

Lalu Bagaimana nasib Aditya? Bagaimana kah dengan cita citanya? Kapankah orang-orang sanggup menyimpan rahasia kematian Ibu dan adik tercinta?… Kita berharap Yang Maha Kuasa memberikan jalan keluar yang terbaik untuk seorang Aditya.
Mari kita pikul deritanya bersama sama, mari berikan bahu kita untuk menjadi Tempat bersandarnya. Aditya, bocah sebelia dia harus menanggung beban duka yang belum tentu seorang dewasapun mampu memikulnya.

Kini, kami disini dan saat ini mengharap petolongan Tuhan kami dan uluran tangan dari para ahli untuk menata kembali kejiwaan Aditya Adik kami, kami disini berharap datangnya ulama yang berani untuk membangkitkan kembali dan Menata keimanan saudara saudara kami.. Jangan kalian tinggalkan kami… karena mungkin masih ada Aditya Aditya yang lain disini dengan seribu kisah yang menyayat hati.

Pewarta : Al-ghurobaa
Penyunting : Al-ghurobaa
Foto : Al-ghurobaa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *